mengenal naskah kuno di daerah Lombok

Saya Muhammad Vian Ardiansyah ingin menceritakan perjalan saya mencari naskah kuno, pertama kali sayamencari naskah kuno sasak pada hari Senin, tanggal 21 Oktober 2019 pada pukul 17.00. sebelumnya saya sudah tahu alamat tokoh pemegang naskah kuno tersebut yaitu di desa Pelabu kecamatan Kuripan. Untuk menuju desa Pelabu saya dan dua rekan saya menggunakan sepeda motor dan pergi bersama-sama, di perjalanan kami mengahabiskan waktu selama kurang lebih 10 menit untuk sampai di rumah tokoh naskah kuno tersebut yaitu di desa Pelabu. Setelah sampai di rumah tokoh naskah kuno kami tidak bertemu dengan pemilik naskah tersebut melainkan kami bertemu dengan istri pemilik nasakah tersebut. Kami bersalaman dan memperkenalkan diri serta meberitahu maksud dan yujuan kami dating ke rumah tersebut namun istrinya memberikan kami nomor telpon tokoh naskah tersebut dan menyarankan kami untuk menelpon dan membuat janji terlebih dahulu dengan tokoh naskah kuno tersebut untuk bertemu. Setelah itu kami menerima saran dari istri tokoh naskah kuno dan bermitan pulang. Kami sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan tokoh pemilik nasakah kuno dan kami pulang dengan tangan kosong. Dan perjalan kami berencana untuk di rumah salah satu rekan kami dan menelpon tokoh tersebut sekaligus membuat janji kapan bisa bertemu, dan akhirnya kami berkumpul di rumah salah satu rekan kami dan segera menelpon tokoh pemilik naskah kuno sasak yaitu bapak Lalu Munasib yang biasa di panggil Mamiq. Setelah mamiq mengangkat telpon dari kami, kamipun memperkenalkan diri dan memberitahu maksud dan tujuan kami menelpon serta mebuat janji kapan mamiq bisa kami temui dan mamiq bersedia ditemui pada hari rabu tanggal 23 Oktober 2019 ba’da sholat magrib. Kamipun pergi kerumah mamiq pada hari Rabu tanggal 23 Oktober 2019 pukul 19.00 wita. Setelah sampai di rumah mamiq kamipun langsung bertemu dengan mamiq yang sedang mempersiapkan acara pertemuan para sesepuh sekaligus mengadakan acara dzikiran (Roah) dalam rangka syukuran selesainya bangungan posyandu yang telah dibangun oleh mamiq dan kamipun bersalaman dengan mamiq dan kami di persilahkan duduk dan mengikuti acaranya mamiq sampai selesai. Di acara tersebut kami mengikuti prosesinya dari mebanya ayat suci alqur’an secara bersamaan, mendengarkan sambutan dan ceramah serta kami mendengarkan hal baru yang pertama kali kami dengar yaitu mendengar sebuah tembang yang di padukan denga alat musik modern yaitu gitar dan itu menrut kami sangat menarik tetapi sangat disayangkan musik tersebut tidak dimainkan secara langsung melainkan kami hanya mendengarkan melalui kaset rekaman. Kamipun menunggu acara tersebut sampai selesai sekitar sampai jam 21.30 wita. Setelah acara syukuran selesai, mamiqpun memanggil kami dan meminta kami duduk dulu dan menunggu sebentar sembari mamiq mengambil naskah kuno yang akan diperlihatkan ke kami dan mamiq datang membawakan kami nasakah tersebut dan diperlihatkan ke kami. Mamiq memberitahu kami judul dari naskah tersebut yaitu Pus Pakarme yang artinya nama seorang raja yang terdpat dalam cerita naskah kuno tersebut. Dan menjelaskan sedikit tentang nasakah tersebut dan kamipun mendengarkannya dengan baik. Setelah selesai kami di jelaskan tentang nasakah tersebut karena sudah larut malam kamipun berpamitan untuk pulang dan bersalaman dan tidak lupa kami mengucapkan terimakasih karena sudah membantu dalam menyelesaikan tugas tentang naskah kuno sasak dan sudah bersedia meluangkan waktunya untuk kami menjelaskan tentang naskah kuno sasak tersebut. (Bagian lempir yang saya dapatkan) Ketika saya berada di rumah mamiq dan ketika kami di perlihatkan naskah kuno dan setelah kami di jelaskan tentang naskah kuno tersebut kami lansung melakukan prosesi nyeput dan saya mendapatkan bagian lempir seperti gambar diatas. Yang bertuliskan tentang : `wawu teka ing soring langit, lanang cilik sawiji, ayun marak kayeku, ki wadon tumulya mulih, nyuhun toya manjing aneng kadatyan Sampun inya nurun toya, nuli marak neng sang putrid, kawula maraking tuwan, nuturi wewekas uni, wenten kawulu cilik, sawiji saking sor iku, bagus ing warnanira, ayun maraking sang putrid, sang suputri kagyat miyarsa warti. Yang artinya sebagai berikut ; baru datang dari bawah langit, laki-laki kecil seorang, mau menghadap.” Si wanita lalu pulanglah, menjunjung air ke istana. Setelah menurunkan air,lalu menghadap sang putri,”Hamba menghadap tuanku,menyampaikan pesan,pada kawula kecil,seorang dari bawah langit,tampan sekali rupanya,mau menghadap tuanku.” Sang putrid terkejut mendengar warta. Sekilas gambaran isi naskah yang saya dapatkan dari cerita mamiq yang saya wanwancarai saat melakukan penarian naskah kuno. Adapun isinya sebagai berikut. Nama Puspa Karma sendiri diambil dari nama desa yang dipimpin oleh Raja Puspa Karma, begitu juga sebutan untuk rajanya. Naskah ini menceritakan tentang Sang Raja yang mempunyai satu anak laki-laki. Ia sangat menyayangi anaknya dan mengupayakan segala hal untuk melihat anaknya bahagia. Alkisah disebuah desa bernama Baital Muqdas, ada sorang tukang pandai emas yang bisa mengubah emas menjadi apapun. Diutuslah si pandai emas ke kediaman Sang Raja untuk membuatkan mainan untuk putranya, yaitu dengan mengubah emas menjadi ikan. Dalam waktu 7 hari, tukang pandai emas berhasil mengubahnya ikan tersebut dapat berbicara dan sangat hebat. Kemudian Sang Raja berpikir, jika ia memberikan ikan tersebut kepada putranya, nanti ikan tersebut akan mati dan disia-siakan. Kemudian Sang Raja memanggil kembali tukang pandai emas dari desa Baital Makmur yang lebih terkenal dan hebat, diutusnya untuk mengubah emas menjadi burung Merak. Tukang pandai emas berhasil mengerjakan perintah dari Sang Raja dalam waktu 7 hari juga. Merak tersebut bisa terbang dan berbicara. Sang Raja berpikir kembali, kalau ia memberikan burung Merak tersebut kepada putranya, nanti malah akan disia-siakan. Akhirnya, Sang Raja tidak meberika ikan atau burung Merak emas kepada putranya. Kemudian di penyimpanan, ikan dan Merak yang ditempatkan berdampingan saling bertanya. Merak bertanya pada iakan, “wahai Ikan, apa tujuanmu dibuat?” Ikan pun menjawab, “tujuanku dibuat adalah sebagai teman pangeran”. Bagaimana denganmu wahai Merak, apa tujuanmu dibuat? Dan Merak menjawab,”Sama, tujuanku dibuat juga untuk menemani pangeran”. Mereka saling memepengaruhi agar meloloskan diri dari kurungan masing-masing sehingga akhirnya Merak keluar dari sangkar dan menghampiri Pangeran yang sedang bermain. Salah satu pengawal berkata kepada pangeran, “Wahai pangeran, itulah Merak yang akan dihadiahkan Raja untukmu. “Sang Pangeran pun senang bukan main, dihampirinya burung Merak tersebut dan naiklah ia ke pundaknya, mereka pun membawa Sang Pangeran terbang bersama. Di suatugimungyang amat tinggi. Di puncak gunung itu terdapat sebuah batu yang amat besar dinaungi pohon beringin yang besar pula. Sementera itu, datanglah seorang musafir tua yang kemudian memberinya sepucuk lidi aren (enau) yang amat bertuah karena setiap yang bemyawa akan takluk padanya. Untuk itu, si lidi aren ini terutama dapat menjadi senjata yang luar biasa canggihnya untuk menaklukkan musuh. Pengembaraan pun ditemskan dan sampai pada sebuah taman di tepi tegalan milik Raja di negeri Sangsian. Penunggu taman im adalah pasangan suami istri yang mandul dan untuk itu mereka dijuluki Ki Kasian dan Ni Kasian yang artinya Pak Mandul dan Bu Mandul. Mereka sangat gembira menemukan bocah lelaki beiparas tampan dan sangat cerdas. Lalu si pangeran pun diangkat sebagai anak mereka. Pada suatu hari Raja Sangsian ingin berbum ke hutan larangan. Sang Raja menyuruh patihnya untuk memberitahu prajurit dan rakyat agar ikut berburu, termasuk Pak dan Ibu Mandul dengan membawa Pangeran kecil. Pangeran memberi tabu Pak Mandul bahwa perburuan Raja akan gagal tidak seekor satwa pun akan diperolehnya. Selain itu, raja akan mendapatkan kedukaan karena membunuh induk rusa yang sedang beranak kecil.Kedukaan dan penyesalan Raja Sangsian akan begitu mendalam sampai membuat Raja akan jatuh sakit dan nyaris meninggal. Sebelum Raja melakukan peibuman, Paaigeran lebih dahulu mengumpulkan segala satwa hutan dan diberitahu bahwa raja dengan prajuritnya akan beiburu. Mereka disuruh lari dan bersembunyi menyelamatkan diri masing-masing. Begitu Raja Sangsian masuk hutan perburuan, ia sangat kecewa tak raenemukan binatang buruan dan diam-diam ia pergi ke hutan sendirian. Seperti yang diramalkan pangeran kecil ia menjumpai seekor induk rusa lalu dibunuhnya. Sesaat kemudian datanglah anak rusa menangisi kematian induknya seraya membelai dan menciumnya layaknya ia ingin membangunkan induknya dari tidur. Anak rusa menjerit melengking seperti manusia yang sedang meratapi kematian ibunya. Semua kejadian itu disaksikan oleh Raja Sangsian dengan hati bagai tersayatsayat. Akhimya, ia jatuh sakit dan tak mau berbicara sama sekali. Sekembali ke istana ia mengumng diri di kamar dan menggulung dirinya dengan selimut. Rasa berdosa terhadap induk dan anak msa itu membuat hasratnya untuk mempunyai anak semakin menjadi-jadi.Untuk itu, dicarilah obat mujarab yang sekaligus dapat mengobati penyakit penyebab kemandulannya. Ganjarannya begitu besar, yaitu separuh negeri dan kedudukan raja akan diberikan serta kalau ia mendapatkan anak wanita si dukun akan dijadikan menantu. Pangeran, putra Raja Puspakrama, menyanggupi untuk mencarikan obat bagi sang Raja. Pengembaraan dimulai, ia beijalan bertongkat lidi aren, dengan dinaungi si Merak Emas. Mereka berkelana di penmukaan bumi dengan mendapatkan berbagai halangan dan rintangan, namun semuanya dapat dilawan dan diatasi. Setelah pengembaraan yang panjang, dijumpailah kotoran (tinja) setinggi gunung dan air seni setelaga. Kotoran itu milik singa terbang (Singa Kelana). Ajaib sekali Singa Kelana jatuh hati pada si pangeran dan mengangkatnya sebagai anak. Hal itu teijadi setelah Singa Kelana diberitahu bahwa ia putra Puspakrama. Mengetahui tujuan putra Puspakrama, Singa Kelana menceritakan rahasia obat yang dicarinya itu. Obat itu bemama "Kemat" (Cupu Manik) dan ada di tangan raja di Kerajaan Angkasa bemama Prabu Desa Maligai. Cupu Manik itu besamya seperti kemiri dan tersimpan di puncak gunung Desa Maligai. Prabu Desa Maligai mempunyai tujuh orang putri yang biasa turun mandi ke sebuah telaga di puncak gunung itu dan Singa Kelana sebenamya adalah penjaga telaga itu. Singa Kelana menyuruh Pangeran Puspakrama pergi mengintip putri tujuh bila turun mandi dan mencuri selendangnya. Pangeran Puspakrama bertiasil mencuri selendang putri sulung anak Angkasa dan mereka saling jatuh cinta. Sebeliun berpisah mereka beijanji untuk bertemu lagi di langit. Suatu hari, dengan berkendaraan merak emas, Pangeran Puspakrama meluncur angkasa luar melewati planet demi planet, dan sampailah keplanet yang ketiga, disitulah Desa Maligai berasa. Mengetahui siapa yang datang, ayahanda si putri tujuh pun menjadi sayang kepada Pangeran Puspakrama. Kemudian, Pangeran Puspakrama dinikahkan dengan putri sulung dan pesta besar bertiari-hari diadakan di Desa Maligai. Namun, malam pengantin dilalui Pangeran Puspakrama dengan cumbu rayu tanpa menggauli istrinya. Pada waktu berpamitan balik ke bumi, si "Kemat" Cupu Manik diberikan padanya. Cupu Manik itu besamya seperti buah kemiri beraneka wama, merah, putih, kuning, hijau, ungu, dan bersinar gilang-gemilang. Keinginan Prabu Desa Malipi untuk mengangkat putra Puspakrama menggantikan beliau sebagai raja di planet ditolak oleh si pangeran karena menyadari bahwa dirinya adalah makhluk bumi. DI negeri Kelanjali inipun malam pengantin sang Pangeran berlalun tanpa dilanjutkan dengan "permainan cinta". Dan, iapun menolak menjadi pengganti Raja Kelanjali. Separuh wilayah Kerajaan Kelanjali, istana, putri, dayang, patih, panggawa, sampai sapi, kuda, serta kerbau dimasukan ke Cupu Manik. Lalu, berangkatlah ia pulang ke bumi negeri Sangsian. Sebelum menghadap raja, ia pulang dulu ke taman tempat orang tua angkatnya, yaitu Pak Mandul dan Bu Mandul. Di negeri Sangsian, Pangeran Puspakrama (Jayangkasa) mengobati Raja Sangsian serta permaisuri, kemudian melahirkan satu orang putra dalam sehari. Hari pertama lahir laki-laki, hari kedua lahir laki-laki, hari ketiga dan keempat lahir wanita. Terakhir, peimaisuri minta hamil normal sembilan bulan, dan dari kehamilan normalnya ini, ia mendapatkan anak wanita. Anak terakhir inilah kemudian dijodohkan dengan Jayangkasa). Pada waktu upacara "putus puser", Jayangkasa mohon kepada Raja Sangsian untuk mengundang Prabu Puspakrama sang Ayahandanya. Dan, pada perhelatan si Sangsian itulah anak yang hilang itu dapat ditemukan. Aridan, setelah mengobati Raja Sangsian, Jayangkasa mengobati ibu angkatnya si Bu Mandul (Ni Kasian) dan mendapatkan seorang anak wanita dan seorang pria dalam waktu dua hari. Ibundanya sendiri, yaitu permaisuri Prabu Puspakrama ingin punya anak baru. Lalu, diobati si Bunda dan lahirlah seorang anak laki-laki dan anak wanita. Raja Puspakrama mengajak Jayangkasa pulang ke Puspakrama. Ia bersedia pulang bila ayahanda mau melepas si ikan emas ke dalam sebuah jambangan berisi air. Jayangkasa tidak bersedia menjadi raja di Puspakrama dan ia sendiri bemiat membuat kerajaan baru. Kerajaan baru itu terletak di antara Sangsian dan Puspakrama dan diberi nama Samaikaton, dan rakyatnya terdiri atas bangsa manusia dan jin, yang disimpan dalam Cupu Manik yang dibawanya dari tiga planet di angkasa luar. Terakhir dituturkan bahwa Jayangkasa kawin dengan putri bungsu Raja Sangsian, dan Cupu Manik dari Mahligai sudah didapat se'rta Merak Kencana Bait Takepen Puspa Karma ada sejak tahun 1940-an dan ditulis ulang secara turun-temurun jikan tulisannya sudah pudar. Hingga sekarang tulisan tersebut selalu di jaga dan di tulis ulang jika tulisan tersebut pudar agar tetap mudah di baca. Takepen Puspa Karma ada sejak tahun 1940-an dan ditulis ulang secara turun-temurun jikan tulisannya sudah pudar. Hingga sekarang tulisan tersebut selalu di jaga dan di tulis ulang jika tulisan tersebut pudar agar tetap mudah di baca. Kesakralannya, Naskah Puspakrama mempunyai kedudukan yang penting dalam kehidupan masyarakat Sasak Lombok karena ia mengandung ajaran dan filsafat hidup. Oleh karena itu, naskah ini sering digunakan dan dibaca dalam berbagai acara, terutama acara yang bersifat inisiasi, seperti cukuran, kematian, perkawinan, selamatan padi agar tidak mandul, selamatan sapi, kerbau, dan selamatan bagi seorang yang mandul, agar diberi anak. kami melakukan prosesi nyeput dan saya mendapatkan bagian lempir yang bertuliskan tentang : `wawu teka ing soring langit, lanang cilik sawiji, ayun marak kayeku, ki wadon tumulya mulih, nyuhun toya manjing aneng kadatyan Sampun inya nurun toya, nuli marak neng sang putrid, kawula maraking tuwan, nuturi wewekas uni, wenten kawulu cilik, sawiji saking sor iku, bagus ing warnanira, ayun maraking sang putrid, sang suputri kagyat miyarsa warti.


Komentar

Posting Komentar