GENERASI MILENIAL MENGENAL TRADISI NYEPUT NASKAH KUNO


Assalamualaikum wr wb. Kembali lagi di blog saya, kali ini saya Muhammad Vian Ardiansyah akan menceritakan kembali perjalanan kedua saya ke suatu desa tepatnya di desa Pelabu kecamatan Kuripan Lombok Barat. Kedatangan saya yang kedua kalinya di desa Pelabu ini untuk Nyebut Naskah Kuno yang dimiliki oleh salah satu tokoh adat di desa ini, yaitu bernama Lalu Munasib. Mungkin kata Nyeput ini sedikit asing dan jarang didengar di kalangan milenial sekarang. Saya sedikit ingin menjelaskan apa maksud dari Nyeput tersebut. Nyeput merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan takepan yang dituliskan di daun lontar melalui syarat yang telah ditentukan dengan cara, salah seorang memejamkan mata, menenangkan pikiran, memperbaiki niat lalu mengambil satu daun lontar yang kemudian dibacakan oleh tokoh dan memaknai bacaan yang ada di daun lontar yang dipilih dan makna yang tertera didalamnya, kita dapat mengetahui perjalanan kehidupan kedepannya dari orang yang menyeput.
            Hari Jum’at tanggal 8 November pukul 16:30 saya pergi kerumah salah satu tokoh pemilik naskah kuno yaitu Lalu Munasib. Perjalanan saya kerumah beliau menempuh waktu 25 menit dari rumah saya. Sesampai nya dirumah beliau saya disambut dengan baik, dan beliau langsung memperlihatkan kembali naskah kuno yang beliau miliki tersebut kepada saya. Naskah tersebut berjudul Pus Pakarme yang artinya nama seorang raja.
Dan langsung saja saya memberitahu kepada beliau, kedatangan saya untuk kedua kalinya ingin nyeput naskah kuno tersebut. Beliau pun menerima kedatangan saya dengan senang hati, sebelum saya melakukan nyeput beliau memberi tahukan syarat – syarat sebelum nyeput, jika ingin melakukan penyeputan alangkah baiknya kita kosongkan pikiran dan jangan memikirkan hal hal yang negatif, pikirkan hal positif lainya, dan tidak lupa membaca bismillah…
            Saya pun langsung melakukan nyeput naskah kuno tersebut. Satu lempir naskah kuno pun saya cabut dengan cara menutup mata.
                                                                                                                                                                                                            
                                    (Bagian lempir yang saya cabut)


Yang bertuliskan tentang :
`wawu teka ing soring langit, lanang cilik sawiji, ayun marak kayeku, ki wadon tumulya mulih, nyuhun toya manjing aneng kadatyan
            Sampun inya nurun toya, nuli marak neng sang putrid, kawula maraking tuwan, nuturi wewekas uni, wenten kawulu cilik, sawiji saking sor iku, bagus ing warnanira, ayun maraking sang putrid, sang suputri kagyat miyarsa warti.
Yang artinya sebagai berikut ;
baru datang dari bawah langit, laki-laki kecil seorang, mau menghadap.” Si wanita lalu pulanglah, menjunjung air ke istana.
Setelah menurunkan air,lalu menghadap sang putri,”Hamba menghadap tuanku,menyampaikan pesan,pada kawula kecil,seorang dari bawah langit,tampan sekali rupanya,mau menghadap tuanku.” Sang putrid terkejut mendengar warta.
Sedikit saya juga sedikit dijelaskan arti-arti naskah kuno tersebut.
Takepen Pus pakarme ada sejak tahun 1940-an dan ditulis ulang secara turun-temurun jikan tulisannya sudah pudar. Hingga sekarang tulisan tersebut selalu di jaga dan di tulis ulang jika tulisan tersebut pudar agar tetap mudah di baca.                                                       Kesakralannya, Naskah Pus pakarme mempunyai kedudukan yang penting dalam kehidupan masyarakat Sasak Lombok karena ia mengandung ajaran dan filsafat hidup. Oleh karena itu, naskah ini sering digunakan dan dibaca dalam berbagai acara, terutama acara yang bersifat inisiasi, seperti cukuran, kematian, perkawinan, selamatan padi agar tidak mandul, selamatan sapi, kerbau, dan selamatan bagi seorang yang mandul, agar diberi anak.
Dan selesai melakukan kegiatan nyeput ini, ada satu hal yang unik, yaitu air kembang tadi harus kita olesi ke mata, menurut beliau air kembang tadi memiliki manfaat yaitu supaya mata kita tidak buram, waktupun  sudah tampak larut, dan saya pun berpamitan pulang kepada beliau dan tidak lupa saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada beliau sudah membantu berbagi ilmu tentang naskah kuno yang ada di Lombok ini.





Komentar

Posting Komentar